FRAU : “Saya Itu Lani, Oskar Itu Piano, dan Kita Sebuah Band. Bebas Bukan?”

Rasa “itu” menyerang lagi hari ini. Ada yang tertahan dan tak kunjung lepas. Menulis, mudah-mudahan dapat membebaskan dan melenyapkan si-“itu”. Datang dengan headline yang mungkin agak asing dan terkesan awam, “siapa Frau?” “Frau apa sih?” “Gajelas deh selera kuping lu!”. Well, sebagai si pemilik kuping “gajelas” itu, saya sudah biasa menerimanya. Musisi-musisi indie atau si-musisi bawah tanah entah mengapa selalu menarik perhatian lebih, seperti ada magnet positif yang coba menarik si “kuping negatif” untuk mendekat, melongok, dan sialnya malah menempel! Cukup, kembali ke judul yang saya coba muntahkan, Frau.

Frau adalah sebuah nama panggung dari seorang gadis muda berketurunan Jawa – Jepang Hawaii kelahiran Yogyakarta, 2 Mei 1990 (She’s a taurusian!!). Nama aslinya Leilani Hermiasih dan teman duetnya Oskar sebuah piano digital Roland RD700SX buatan tahun 90’an, “Kami band!” –serunya. Ia –Frau atau Lani atau apalah- adalah seorang penyanyi, komponis, dan lirisis, atau lebih mudahnya ia adalah keseluruhan Frau. Pemudi bernyanyi biasa, tapi jika dikolektifkan dengan meng-compose dan menciptakan lirik sendiri? JARANG! Nama Frau sendiri berarti Ibu dalam bahasa Jerman, dan Lani ingin mengidentikan nama ini sebagai seorang gadis sederhana dengan rok yang bercengkrama dibelakang piano tua miliknya.

Nama dan karyanya mulai tersebar setelah di 2009 ia tampil di acara Kick Andy di MetroTv. Datang sebagai sosok pemudi idealis yang menjadikan musik sebagai pengantar hobi dan kesenangan semata, Lani seakan tidak “Cuma-Cuma” dalam karyanya. Kombinasi vokal-piano digital dibalut dengan suara anggun dayuan lengkingan bagai sebuah suara si Frau –secara harfiah- saat mendongengkan sang anak agar segera terlelap dibalik selimutnya menyempurnakan karyanya yang tidak main-main. Dan tipikal seperti ini dijamin tidak akan laku di jalur mainstream musik popular, saya bertaruh akan itu. Lagipula itu bukan tujuan gadis yang mengaku lebih ingin dikenal sebagai mahasiswi ketimbang musisi. Lani sendiri telah berhasil melahirkan dua perhiasan bawah tanahnya, Starlit Carousel (2010) dan Happy Coda (2013). Materi-materi yang diangkatnya sangat sederhana, keseharian dan pengalaman menjadi bahan utamanya, tapi luapan lirik dan emosi yang Lani bawakan menjadi bahan yang membuat sederhananya menjadi Istimewa. I’m A Sir, Mesin Penenun Hujan, Tarian Sari, dan Water menjadi bukti dan itu kurang, karena semua track-list dalam dua album itu very worthed to you hear.

Meski begitu dengan tidak sedikitnya prestasi, sanjungan pengamat musik, bahkan pernah masuk dalam daftar 10 musisi Indonesia yang layak diperdengarkan di luar negeri oleh salah satu portal berita dunia maya dan kedua albumnya masuk dalam daftar 20 Album terbaik versi Rolling Stone di tahun 2010 dan 2013 tak membuat Lani lantas menjadikan musik sebagai jalan utamanya. Musisi lulusan S1 Antropologi UGM dan magister Antropologi Sosial (Ethnomusicology) di Queen’s University Belfast, Inggris Raya ini tetap menjadikan musik sebagai hobi dan tempatnya bersenang-senang. Karena menurutnya, jika popularitas dan materi menjadi balutan dalam kegiatan bermusiknya hal itu hanya akan menekannya dan membuat musiknya tak lagi bebas malah mungkin akan mengacaukannya. Sosok yang jarang terlebih melihat kualitasnya yang tidak bisa diragukan lagi, Lani seakan memiliki semua modal untuk menjadi diva terkenal andai ia sudi berkompromi dengan major label –mungkin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s